“Jangan tanya apa yang diberikan oleh negara,tapi tanya apa yang bisa kamu berikan untuk negara”. Sebuah kalimat yang mungkin akan menusuk hati kita yang paling dalam sebagai seorang pemuda. Kalimat yang pernah digaungkan oleh presiden pertama kita, Ir. Soekarno, untuk membakar semangat pemuda yang sedang membela negara saat itu. Bagaimana dengan kita? Generasi yang telah nyaman dengan segala keadaan yang memanjakan diri, generasi yang tidak perlu susah payah dan mengorbankan nyawa hanya untuk mengucapkan kata “MERDEKA”. Lantas hal apakah yang telah kita lakukan sebagai generasi muda? Generasi yang dinobatkan menjadi pemimpin Indonesia di kemudian hari, generasi yang di tangan mereka lah nasib Indonesia akan semakin baik atau sebaliknya. Menuju ke arah negara yang gagal.
Pemuda yang sekarang telah jauh dari konsep cinta tanah air, seperti yang telah diucapkan dalam Sumpah Pemuda. Pemuda lebih dianggap sebagai sampah masyarakat, yang selalu membuat kerusakan dan mengganggu ketertiban. Merokok, minum minuman keras, seks bebas, perkelahian, dan narkoba telah menjadi paradigma baru remaja bagi masyarakat. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sekitar 6000 anak harus berhadapan dengan hukum karena berbagai masalah yang dilakukan. Bahkan data dari Badan Nasional Narkotika (BNN) menunjukkan 1,3 juta dari 3,3 juta pengguna narkoba di Indonesia adalah pelajar dan mahasiswa. Ironis sekali! Padahal tonggak sejarah berdirinya Indonesia tidak lepas dari peran pemuda. “Sumpah Pemuda 1928”, “Proklamasi Kemerdekaan RI”, dan “Reformasi 1998” adalah contoh kecil dari peran pemuda bagi Indonesia. Saat itu pemuda menjadi garda terdepan dalam semua kegiatan, baik diplomasi maupun peperangan.
Perubahan yang terjadi terhadap sikap pemuda akhir-akhir ini tidak lepas dari arus globalisasi dan modernisasi. Sebagai salah satu pemuda, muncul pertanyaan di hati kita paling dalam. Apakah yang sudah kita berikan kepada negara ini? Sudahkah kita menunjukkan rasa cinta tanah air? Atau kita termasuk dalam pemuda yang suka berfoya-foya? Semoga tidak. Namun di balik itu semua terdapat beberapa golongan anak muda yang sampai sekarang tetap mendedikasikan dirinya untuk hal-hal yang bermanfaat, tidak hanya untuk dirinya tetapi juga orang di sekitarnya. Mereka menunjukkan kecintaannya terhadap Indonesia, rasa nasionalisme seorang pemuda dengan ikut dalam suatu organisasi siswa intra sekolah atau biasa disebut OSIS. Dimana saya termasuk di dalamnya dan menjadi Ketua OSIS ’10-’11 di SMA Negeri 1 Tuban. Sekaligus menjadi Deklarator 99, yang merupakan Forum OSIS Nusantara (FON) dan dibentuk belum lama ini di Universitas Indonesia (UI). Untuk meyakinkan Anda, silakan buka Facebook : Deklarator 99.
FON merupakan suatu wadah dimana setiap anak dapat memberikan saran atau pendapatnya untuk kegiatan yang telah ada dalam program kerja, organisasi yang memiliki kedudukan tertinggi dalam suatu sekolah. Perlu diketahui, FON telah memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART). Kegiatan FON meliputi keagamaan, kebangsaan, pendidikan formal maupun budi pekerti, politik, ekonomi, olahraga, teknologi informasi, bahkan bahasa dan sastra. Secara tidak langsung, setiap anggota FON telah menunjukkan rasa nasionalismenya dengan mengikuti FON. Bagaimana mungkin? Seperti yang telah saya sebutkan di atas, kegiatan FON meliputi aspek-aspek yang berkaitan dengan nasionalisme.
Mungkin Anda masih ragu, bagaimanakah cara FON dapat menjadi wadah pemuda untuk menunjukkan rasa nasionalismenya? Salah satu kegiatan FON yang berhubungan dengan nasionalisme, dan belum lama ini diadakan adalah pelaksanaan kegiatan upacara Hari Pahlawan. Seperti kata pepatah “bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenang jasa pahlawannya”. Globalisasi telah membuat pemuda lupa terhadap tanggung jawab yang dimilikinya, bahkan tidak mengenal lagi nama pahlawan kita. Ironis sekali! Dengan adanya upacara seperti ini maka akan membuat hati pemuda terbuka dan terketuk untuk melaksanakan tugas pokoknya yaitu membawa negara ini menjadi lebih baik. Selain itu FON juga mempunyai agenda kegiatan memperingati Hari Guru. Kegiatan ini bertujuan untuk memecahkan rekor MURI dengan mengumpulkan tanda tangan dukungan untuk memperingati Hari Guru.
OSIS sangat berbeda dengan dunia politik yang kita kenal selama ini, menjadi pengurus OSIS sangatlah berat dan tidak mendapatkan fasilitas atau gaji dari sekolah maupun pemerintah. Waktu, privasi, materi, tenaga, pikiran, dan keluarga harus dikorbankan agar semua kegiatan menjadi maksimal. Pulang malam untuk menyiapkan peringatan HUT RI telah menjadi santapan setiap tahun bagi pengurus OSIS, perlu diingat bahwa semua itu dilakukan tanpa imbalan apa pun. Semua dilakukan sebagai bentuk pengabdian terhadap negara tercinta, Republik Indonesia. Walaupun terdengar mudah dan termasuk hal yang kecil bagi orang lain, namun menjadi pengurus OSIS berarti telah menjadi generasi cinta tanah air. Bangga lah karena telah menjadi generasi cinta tanah air.
0 komentar:
Posting Komentar